Bagaimana Mengembangkan Sebuah Startup? Cari Tahu di Sini!

No Comments

Dunia startup sedang menjadi suatu tren di Indonesia akhir-akhir ini. Berbagai kisah sukses dari startup lokal seperti Gojek, BukaLapak, atau Traveloka, menjadi pemicu semangat munculnya startup-startup baru. Setiap tahun bahkan setiap bulan banyak startup baru bermunculan. Menurut Daily Social, sekarang ini terdapat setidaknya lebih dari 1500 startup lokal yang ada di Indonesia. Potensi pengguna internet di Indonesia yang semakin meningkat dari tahun ke tahun juga menjadi katalis mendirikan sebuah startup.

Sebenarnya apa itu startup? Banyak definisi yang agak berbeda dalam menjelaskan arti startup. Terutama dari cara mengkategorikan mana yang masih dianggap sebuah startup dan mana yang bukan. Banyak juga yang menghubungan startup dengan sisi teknologi. Jika bukan didukung oleh faktor teknologi yang kuat, maka dianggap itu adalah sebuah rintisan usaha biasa (UKM). Dave McClure, founding partner dari 500 Startup menjelaskan bahwa sebuah Startup adalah rintisan usaha yang masih belum jelas akan pruduk, siapa customernya, dan bagaimana model bisnisnya. Artinya sewaktu-waktu merka bisa melakukan pivot (perubahan) terhadap hal-hal tersebut jika dibutuhkan.

Banyak Startup yang lahir dengan suatu ide brilian yang muncul dari problem sosial yang ditemukan para foundernya. Mereka memiliki visi untuk memberi solusi atas problem tersebut. Namun mereka masih mencari model bisnis yang tepat untuk berkembang. Artinya bahwa di awal berdirinya, startup itu belum memiliki rencana bisnis yang matang. Biasanya startup seperti ini dimotori oleh anak-anak muda yang memliki idealisme yang tinggi namun belum banyak pengalaman dari sisi pengelolaan usaha. Oleh karena itu seringkali peran pendamping dibutuhkan. Banyak inkubator bermunculan untuk mencoba membantu arah pengembangan startup tersebut. Mereka biasanya mendukung dari sisi pembiayaan sekaligus mentorship.

Pemerintah kini juga memberikan perhatian khusus pada perkembangan startup di Indonesia. Presiden Jokowi dalam kunjungannya ke Sillvicon Valley, Amerika serikat beberapa waktu lalu telah memperkenalkan program untuk mencari 1000 startup baru di Indonesia. Melalui project 1000 Startup ini perkembangan startup dan para technopreneur di tanah air akan memiliki peta jalan (roadmap) pembinaan yang jelas lewat berbagai program seperti seminar, workshop pelatihan, kompetisi hackathon, bootcamp dan inkubasi.

Di Indonesia sekarang ini mulai bemunculan berbagai wadah komunitas startup. Dengan adanya komunitas ini memudahkan para founder untuk saling sharing, berkolaborasi bahkan untuk menjaring investor. Mereka dapat pula mengikuti kompetisi yang diadakan beberapa perusahaan untuk menjadi investor mereka. Banyak investor tertarik untuk menanamkan investasinya di dunia startup karena mereka melihat potensi pengembangan yang luar biasa besar. Sinergi pengalaman dan kekuatan finansial dari para investor, bersama dengan kemampuan teknis dan produk dari para startup dapat menghasilkan suatu potensi bisnis yang besar.

Hal yang paling penting dalam suatu startup adalah tim yang solid. Dengan adanya tim yang solid akan memunculkan ide-ide baru yang kreatif dan inovatif. Dengan ide dan eksekusi yang tepat, tentunya para founder tidak akan kesulitan menarik minat masyarakat bahkan mencari investor. Dalam membuat keputusan untuk pendanaan suatu startup, investor biasanya akan menilai soliditas tim dengan kekuatan ide dan kemampuan eksekusinya. Setelah itu mereka akan menilai model bisnis startup tersebut.

Secara umum model bisnis untuk startup dapat dikategorikan menjadi gratis, freemium, dan berbayar. Model gratis artinya mereka tidak mengenakan biaya untuk penggunanya, tapi mengambil keuntungan dari adanya kerjasama periklanan. Model berbayar artinya keuntungan didapatkan dari pembelian pengguna atas produk/layanan aplikasi mereka. Sedangkan freemium menggabungkan fitur gratis dan berbayar. Pengguna dapat menikmati fitur dasar dari layanan yang disediakan, tetapi mereka harus membayar untuk menikmati berbagai fitur tambahan. Biasanya startup games banyak menggunakan model ini. Karena pengguna ingin mencoba dulu games yang bersangkutan sebelum membayar jika mereka menyukainya.

Perkembangan teknologi membuat banyak perubahan dalam model bisnis tradisional. Banyak peluang baru bermunculan, tapi juga tantangan besar harus dihadapi. Banyak model bisnis yang hancur karena tidak mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan. Ambil contoh bangkrutnya bisnis persewaan film terbesar dunia, Blockbuster, karena gagal mengantisipasi model streaming film seperti Netflix. Atau toko buku Borders yang tutup karena gagal bersaing dengan Amazon. Jangan sampai usaha kita juga terhanyut dengan menjadi korban dari perkembangan teknologi. Sudah siapkah Anda?

More from our blog

See all posts
No Comments